Mengapa Harus Kata Rasulullah?
Alhamdulillah, bisa mulai posting lagi sore ini. Sebenarnya hari ini, tetapi karena tadi pagi sudah saya wakilkan dengan sedikit nge-junk disini, makanya saya bilang lah sore ini :).
Btw, artikel sore ini saya berikan judul mengapa harus kata Rasulullah, atau lebih tepatnya mengapa harus dari Rasulullah?
Saya pernah berdiskusi dengan teman satu kampus, katakanlah X, mengenai sesuatu hal, kebetulan hal atau perkara agama, dan ketika kami sudah mentok pada hal tersebut, dia kemudian teringat akan perkataan ustadz Y, bahwasanya jika menghadapi yang seperti itu seharusnya ini, ini, dan ini. Okelah, tidak masalah bagi saya apabila kita belum tahu dan mendapatkan penerangan dari perkataan orang, apalagi waktu itu sedang dalam keadaan darurat sipil, setidaknya dari belum tahu menjadi lebih yakin, hehe. Nah, yang jadi masalah adalah ketika kita bertemu dengan orang yang berbeda lagi dan kebetulan menanyakan masalah yang sama, kemudian kita mengatakan kepada orang tersebut bahwa solusi masalah tersebut adalah ini itu, seperti yang dikatakan Y melalui X, tanpa landasan yang kuat. Lalu apa jadinya apabila orang tersebut menyampaikan kepada orang lain seperti itu juga, berputar seperti itu, padahal setelah ditelusuri lebih jauh bahwa yang disampaikan Y itu ternyata salah kaprah?
Saya kembali teringat ketika dulu, ketika masih mengaji di rumah pak kyai tetangga saya, saya pernah menanyakan tentang sesuatu hal, dan saya menanyakan mengapa, ternyata beliau mengatakan bahwa wong dulu guru saya juga mengatakan seperti ini, masak guru salah? Oke, semoga bisa menjadi pencerahan buat kita semua.
Uhm..saya fikir, alangkah lebih baik apabila kita bertanya kepada yang lebih tahu, serta dari yang lebih tahu tersebut kita mintakan sumber-sumber yang kemudian bisa dijadikan hujjah atau argumen yang kuat dalam memberikan solusi mengenai perkara tersebut, daripada kemudian ceplas ceplos mengatakan bahwa solusinya adalah ini itu, dengan atau tanpa mengatakan bahwa solusi itu berasal dari si Y, titik.
Mengapa demikian? Mengapa harus yang bersumberkan Rasulullah? Karena apa-apa yang harus kita lakukan haruslah bersumberkan kepada Al Qur'an dan Al Hadits, karena Allah SWT memberikan wahyu kepada beliau, dan beliau, Rasulullah SAW, adalah satu-satunya manusia yang ma'shum, setiap beliau melakukan kesalahan, Allah langsung mengingatkan. Dan, sudah barang tentu disampaikan dengan cara yang baik dan bijak pula. CMIIW.
Read more...
Saya pernah berdiskusi dengan teman satu kampus, katakanlah X, mengenai sesuatu hal, kebetulan hal atau perkara agama, dan ketika kami sudah mentok pada hal tersebut, dia kemudian teringat akan perkataan ustadz Y, bahwasanya jika menghadapi yang seperti itu seharusnya ini, ini, dan ini. Okelah, tidak masalah bagi saya apabila kita belum tahu dan mendapatkan penerangan dari perkataan orang, apalagi waktu itu sedang dalam keadaan darurat sipil, setidaknya dari belum tahu menjadi lebih yakin, hehe. Nah, yang jadi masalah adalah ketika kita bertemu dengan orang yang berbeda lagi dan kebetulan menanyakan masalah yang sama, kemudian kita mengatakan kepada orang tersebut bahwa solusi masalah tersebut adalah ini itu, seperti yang dikatakan Y melalui X, tanpa landasan yang kuat. Lalu apa jadinya apabila orang tersebut menyampaikan kepada orang lain seperti itu juga, berputar seperti itu, padahal setelah ditelusuri lebih jauh bahwa yang disampaikan Y itu ternyata salah kaprah?
Saya kembali teringat ketika dulu, ketika masih mengaji di rumah pak kyai tetangga saya, saya pernah menanyakan tentang sesuatu hal, dan saya menanyakan mengapa, ternyata beliau mengatakan bahwa wong dulu guru saya juga mengatakan seperti ini, masak guru salah? Oke, semoga bisa menjadi pencerahan buat kita semua.
Uhm..saya fikir, alangkah lebih baik apabila kita bertanya kepada yang lebih tahu, serta dari yang lebih tahu tersebut kita mintakan sumber-sumber yang kemudian bisa dijadikan hujjah atau argumen yang kuat dalam memberikan solusi mengenai perkara tersebut, daripada kemudian ceplas ceplos mengatakan bahwa solusinya adalah ini itu, dengan atau tanpa mengatakan bahwa solusi itu berasal dari si Y, titik.
Mengapa demikian? Mengapa harus yang bersumberkan Rasulullah? Karena apa-apa yang harus kita lakukan haruslah bersumberkan kepada Al Qur'an dan Al Hadits, karena Allah SWT memberikan wahyu kepada beliau, dan beliau, Rasulullah SAW, adalah satu-satunya manusia yang ma'shum, setiap beliau melakukan kesalahan, Allah langsung mengingatkan. Dan, sudah barang tentu disampaikan dengan cara yang baik dan bijak pula. CMIIW.
Akhirnya, setiap anak adam melakukan kesalahan, dan setiap yang melakukan kesalahan wajib meminta maaf, demikian yang saya pahami. Saya sangat tersanjung sekali apabila mendapatkan banyak kritikan membangun dari anda.
kosan samping an nuur, menunggu adzan
